Bantuan Bencana Aceh
ACEH TAMIANG DI TITIK NADIR : BANJIR MELUMPUHKAN PEMERINTAHAN, WARGA MASIH BERTAHAN DI PENGUNGSIAN
15/01/2026 | Humas Baznas SukoharjoAceh Tamiang, Kamis, 15 Januari 2026 —
Kabupaten Aceh Tamiang masih berada dalam kondisi darurat yang sangat memprihatinkan. Banjir besar yang melanda wilayah ini tidak hanya merendam permukiman warga, tetapi juga melumpuhkan pusat-pusat pemerintahan dan fasilitas strategis. Hingga hari ini, denyut pelayanan publik nyaris berhenti, sementara ribuan warga masih bertahan dalam ketidakpastian.
Di pusat kota, genangan air dan lumpur pekat menyelimuti kawasan Kompleks Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang dan gedung DPRD. Kantor-kantor yang seharusnya menjadi pusat koordinasi penanganan bencana justru ikut tenggelam. Arsip pemerintahan hanyut, perabot rusak, dan aktivitas pelayanan publik lumpuh total.
Kondisi serupa terjadi di lingkungan Kompi Batalyon Yonif 111 Karma Bhakti, yang lokasinya berdekatan dengan pusat pemerintahan. Barak prajurit rusak parah, peralatan terdampak banjir, dan sebagian fasilitas tidak lagi dapat digunakan. Prajurit TNI yang selama ini menjadi garda terdepan dalam evakuasi dan distribusi bantuan terpaksa lebih dulu menyelamatkan diri serta sarana pendukungnya.
“Jika pusat kota saja mengalami kerusakan sedemikian parah, maka kondisi wilayah pedalaman jauh lebih memprihatinkan,” ungkap Komandan Baznas Tanggap Bencana (BTB) Kabupaten Sukoharjo, Sofwan Faizal Sifyan, yang berada di Aceh Tamiang dalam rangka misi kemanusiaan.
Menurutnya, sejumlah desa hingga kini masih terisolasi akibat akses jalan terputus. Bantuan belum sepenuhnya menjangkau wilayah-wilayah tersebut. Warga, termasuk anak-anak dan lansia, bertahan di pengungsian darurat dengan keterbatasan logistik dan fasilitas kesehatan.
Banjir kali ini bukan banjir biasa. Ketinggian air dilaporkan mencapai dua hingga tujuh meter, menyebabkan banyak rumah hanyut, roboh, atau dipenuhi lumpur tebal. Mayoritas rumah warga belum dapat ditempati kembali. Dinding menghitam, lantai tertutup endapan lumpur, dan bau lembap menyelimuti kawasan permukiman.
Sebagian kecil warga terlihat mulai membersihkan rumah mereka secara mandiri. Namun, tanpa peralatan memadai dan kepastian bantuan lanjutan, upaya tersebut lebih menyerupai perjuangan bertahan hidup. Banyak perkakas rumah tangga, pakaian, hingga dokumen penting rusak atau hilang terbawa arus.
Dalam situasi tersebut, Baznas Tanggap Bencana Kabupaten Sukoharjo terus menyalurkan bantuan kemanusiaan. Hingga hari ini, bantuan air mineral telah dikirimkan secara bertahap, termasuk 1.000 karton air mineral yang disalurkan melalui Batalyon Yonif 111 Karma Bhakti Aceh Tamiang untuk didistribusikan kepada warga terdampak banjir dan longsor. Bantuan tambahan berupa sembako serta peralatan pertukangan juga disalurkan untuk mendukung pembersihan lumpur dan pemulihan lingkungan.
“Ini bukan sekadar bencana banjir, ini adalah krisis kemanusiaan yang jika tidak ditangani dengan kesungguhan akan meninggalkan luka panjang,” tegas Sofwan.
Pernyataan tersebut mendapat dukungan penuh dari Ketua BAZNAS Kabupaten Sukoharjo, Drs. H. Sardiyono, MM, beserta seluruh jajaran pimpinan BAZNAS. Menurutnya, penanganan bencana di Aceh tidak cukup berhenti pada fase tanggap darurat, tetapi harus berlanjut ke tahap pemulihan dan rekonstruksi yang membutuhkan komitmen bersama lintas daerah dan lintas lembaga.
Hingga hari ini, Aceh Tamiang masih bergulat dengan lumpur, pengungsian yang belum berakhir, serta rumah-rumah yang belum layak huni. Selama kebutuhan dasar warga belum terpenuhi dan kehidupan belum kembali normal, bencana ini belum benar-benar usai.
Aceh Tamiang tidak sedang meminta belas kasihan. Ia sedang menunggu kehadiran kita semua sebagai bentuk solidaritas sesama anak bangsa—hari ini, bukan nanti.